Pusbinter Learning Festival 2025 Tingkatkan Kompetensi Penerjemah ASN Melalui Pendekatan Hukum, Bahasa, Literasi, dan Kesehatan Mental

Pusbinter Learning Festival 2025 Tingkatkan Kompetensi Penerjemah ASN Melalui Pendekatan Hukum, Bahasa, Literasi, dan Kesehatan Mental

Pusat Pembinaan Penerjemah Melaksanakan Pusbinter Learning Festival 2025 Selama 3 Hari Dengan Rangkaian Kegiatan Dibuka Oleh Kepala Pusat Pembinaan Penerjemah.

  • Senin, 24 November 2025 pukul 14.10
  • Pusbinter
  • Dilihat 13 kali

Jakarta, 20 November 2025 — Kementerian Sekretariat Negara melalui Pusat Pembinaan Penerjemah (Pusbinter) kembali menyelenggarakan kegiatan peningkatan kompetensi bagi Aparatur Sipil Negara melalui Pusbinter Learning Festival 2025: Law, Language, Literacy, and Life. Kegiatan yang berlangsung secara daring pada 18–20 November 2025 ini menghadirkan sejumlah pakar dari bidang hukum, bahasa, jurnalistik, dan kesehatan mental untuk memperkuat profesionalitas dan kapasitas penerjemah ASN di seluruh Indonesia.

Kepala Pusat Pembinaan Penerjemah, Sri Wahyu Utami, dalam sambutan pembukaannya menyampaikan bahwa ASN, termasuk penerjemah, memegang peran strategis dalam penyelenggaraan pemerintahan dan pelayanan publik. Menurutnya, tuntutan profesionalitas ASN semakin tinggi di era digitalisasi, sehingga kemampuan adaptasi, kompetensi teknis, serta integritas menjadi faktor penting dalam mewujudkan ASN yang akuntabel dan responsif terhadap perubahan zaman. Ia menekankan bahwa penerjemah sebagai bagian dari roda pemerintahan harus memiliki kompetensi yang kuat agar dapat mendukung komunikasi pemerintah secara efektif, terutama dalam konteks lintas bahasa dan lintas budaya.

Selama tiga hari pelaksanaan, Pusbinter Learning Festival 2025 menghadirkan narasumber ahli, termasuk Prof. Jimly Asshiddiqie, S.H., M.H., yang membahas pentingnya etika dan tanggung jawab penerjemah khususnya dalam komunikasi hukum dan publik; dr. Santi Yuliani, M.Sc., Sp.KJ, Subsp. ENP (K), yang menguraikan pentingnya kesejahteraan mental penerjemah dalam menjaga ketahanan dan kualitas kerja; Rizki Washarti Siregar, jurnalis internasional dari CNA Digital yang menekankan bahwa penerjemah harus mempunyai style book, glossarium yang menjadi rujukan dalam menerjemahkan sesuai dengan bidangnya masing-masing; serta Ribeka Ota, penyunting karya terjemahan bahasa Jepang yang memberikan wawasan mengenai strategi penerjemahan sastra untuk pembaca Asia..

Selain materi utama, kegiatan ini juga memuat sesi sosialisasi Jurnal Penerjemahan Online (OJS) yang disampaikan oleh Ilham Tri Ade Wicaksono, untuk mendorong kontribusi penerjemah dalam penulisan artikel ilmiah.

Pelaksanaan webinar berlangsung dengan partisipasi tinggi dari para penerjemah yang berasal dari berbagai instansi pemerintah pusat dan daerah. Diskusi interaktif dan antusiasme peserta menjadi indikator bahwa isu-isu yang dibahas relevan dengan tantangan yang dihadapi penerjemah di lingkungan pemerintahan saat ini. Berdasarkan hasil survei, peserta memberikan penilaian “puas” hingga “sangat puas” terhadap kualitas narasumber, penyelenggaraan acara, serta manfaat materi bagi peningkatan kompetensi.

Beberapa pesan penting disampaikan oleh para narasumber, di antaranya dorongan untuk menghayati dan menerapkan kode etik penerjemah secara nyata, pentingnya menjaga kesehatan mental sebagai bagian dari profesionalitas kerja, serta peran krusial penerjemah yang tidak hanya sebagai alih bahasa, tetapi sebagai penjaga presisi makna dan fakta. Narasumber juga mendorong penerjemah untuk lebih aktif menerjemahkan karya sastra ke dalam bahasa negara-negara ASEAN sebagai upaya memperkuat diplomasi budaya dan literasi regional.

Pusbinter menyampaikan bahwa kegiatan ini menjadi salah satu langkah strategis dalam memperkuat pembangunan kompetensi ASN Penerjemah. Melalui kegiatan seperti ini, Pusat Pembinaan Penerjemah berharap dapat terus menghadirkan program pembinaan yang relevan, adaptif, serta didukung oleh narasumber yang berkompeten. Ke depan, Pusbinter menilai perlunya penguatan anggaran serta peningkatan kapasitas internal dalam penyelenggaraan pelatihan agar kegiatan dapat dilaksanakan lebih efektif dan menjangkau lebih banyak penerjemah ASN di seluruh Indonesia.

Pusbinter Learning Festival 2025 ditutup dengan harapan agar seluruh peserta dapat menerapkan pengetahuan dan praktik baik yang diperoleh selama kegiatan, sekaligus terus mengembangkan diri demi mendukung peningkatan kualitas layanan publik melalui penerjemahan yang profesional, akurat, dan berintegritas. (PUSBINTER) (AF).

Kritik & Saran

Aplikasi Mobile e-JFP

Sistem aplikasi jabatan fungsional penerjemah (e-JFP) dari Sekretariat Kabinet selaku pembina jabatan fungsional penerjemah.

Download Sekarang !